Jelajah “Pasar Malam” Kedungdoro, Gemerlap Lokasi Prostitusi Pengganti Gang Dolly

Siapa sangka kawasan pusat penjualan spare part kendaraan Jl Kedungdoro, Surabaya, Jawa Timur dapat disulap menjadi arena “pasar malam” dan wisata hiburan. Di lokasi ini, pelancong yang berkunjung ke Kota Seribu Taman dapat menikmati jajan malam di angkringan, langsung mendapat suguhan susu segar yang dijajakan pekerja seks komersil (PSK) kelas bawah hingga papan atas pasca ditutupnya lokasi prostitusi Gang Dolly tiga tahun lalu.

 

SURABAYA, SIMBUR – Taksi berlambang burung biru mengantarkan Simbur ke sebuah hotel di Jl Kedungdoro, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (7/2) siang. Lokasinya berada di pusat kota Surabaya, tuan rumah Hari Pers Nasional (HPN) 2019. Dari Tunjungan Plaza (TP) lurus ke arah Jl Embong Malang. Setelah Hotel JW Marriott, belok kiri sudah masuk kawasan Kedungdoro. Kira-kira 500 meter, sebelah kanan jalan terdapat kompleks ruko.

Setibanya di hotel bercorak urban art itu, Simbur harus menunggu waktu checkin sekitar pukul 13.00 agar mendapatkan kamar untuk menginap. Terlihat beberapa pasangan remaja check out dari hotel tersebut. Remaja laki-laki tampak menunggu uang kembalian deposit di resepsionis hotel sedangkan pasangan perempuannya berusaha menyembunyikan kepala dan wajah dengan jaket kaus berkerudung. Dua sejoli itu keluar dan bergegas pergi meninggalkan hotel.

Simbur pun mengamati suasana di luar hotel. Tak puas melakukan pengamatan pada siang hari, Simbur kembali melanjutkan penelusuran lokasi kawasan tersebut pada malam hari. Ternyata, hampir setiap ruko di kompleks sekitar hotel  merupakan tempat prostitusi terselubung. PSK dan cabe-cabean berseliweran hampir di setiap sudut ruko. Spa, salon, dan panti pijat plus-plus menyiapkan ‘akuarium’ berisi perempuan cantik dan seksi. Tempat karaoke dan diskotek saling bersaing menawarkan paket entertainment. Tarifnya pun bervariasi dan mampu menyentuh setiap kalangan. Mulai dari harga kaki lima hingga kelas bintang lima dapat ditemukan di sana.

Simbur mulai berjalan menyusuri kawasan tersebut sekitar pukul 22.00 malam. Hari bertambah malam, suasana Kedungdoro pun makin ramai. Di tengah jalan, seorang pria yang diduga sales menyapa dan mengajak mampir ke sebuah panti pijat tempatnya bekerja. Tak ingin lewat depan, pria tersebut mempersilakan masuk dari pintu belakang. Ada empat terapis wanita yang dipajang. “Ayo, Mas. Naik. Service bagus lho,” ungkap seorang terapis asal Indramayu, Jawa Barat.

Tarifnya pun masih bisa dijangkau. Sekali pijat dan shortime dibanderol harga Rp500 ribu. “Bisa dibawa ke hotel tapi tarifnya dua kali lipat, minimal tiga jam longtime,” ungkap papi sang muncikari yang tak ingin namanya disebutkan. Transaksi pun diabaikan karena Simbur hanya melakukan peliputan investigasi.

Simbur kembali bergerak menyisir tempat lainnya dalam kawasan tersebut. Terlihat mobil patroli Kodim masuk ke lokasi tersebut. Simbur pun masuk ke sebuah karaoke. Mami bertubuh seksi dan bohai menyambut dengan senyum ramah. Dia menunjukkan katalog berisi paket karaoke lengkap dengan menu food and beverage. “LC (ladies court) ada di atas. Nanti mereka showing, tinggal pilih yang mau jadi teman karaoke. Bisa di-booking dan dibawa ke luar room asal harganya cocok,” ungkap Mami.

Bunga (bukan nama sebenarnya), wanita asal Medan, Sumatera Utara ini berusaha mengais rezeki di sebuah panti pijat “plus-plus” kawasan Kedungdoro. Dia bersama teman seprofesinya bekerja hingga pukul 01.00 dini hari. “Saya kerja di panti tapi tidak tinggal di sana. Saya bersama teman ngekos di rumah kontrakan. Habis kerja biasanya teman-teman sering ngajak dugem karena bawaan tanggung habis menemani tamu minum sambil karaoke,” akunya saat bertemu Simbur di sebuah angkringan Kedungdoro.

“Makan kok malu-malu. Gerogi ya makan depan saya,” ungkap Bunga sembari menggoda lalu pergi meninggalkan nomor telepon seluler 08233xxxxxxx. Beruntung wartawan media ini tidak tergoda dan tetap melaksanakan tugas jurnalistik.

Hingga berita ini diturunkan, Pemerintah Kota dan Polresta Surabaya belum berhasil dikonfirmasi. Meski demikian, masyarakat sekitar Kedungdoro tidak merasa terusik dan menganggap kawasan tersebut bagian dari kehidupan sosial bahkan cukup meningkatkan perekonomian masyarakat setempat.

Bude, penjual nasi di angkringan itu mengatakan, hampir setiap malam para terapis itu mampir dan membeli dagangannya. Bukan hanya terapis tapi pengunjung dari luar kota yang melakukan wisata malam pun diharapkan dapat meningkat ekonomi masyarakat Kedungdoro. “Biasanya habis pulang kerja anak-anak makan di sini. Mereka semua langganan saya,” ungkap Bude, dibincangi Simbur.

Sementara, Ali (40) pria asal Gresik yang menyambi kerja sebagai sopir taksi online mengaku banyak mengenal para kupu-kupu malam di kawasan Kedungdoro. Setiap ketemu, Ali selalu meminta nomor kontak wanita terapis itu. “Nomor kontaknya penting. Biasa penumpang dari luar kota (Surabaya) sering nanya,” terangnya.

Ali menambahkan, kawasan Kedungdoro diduga menjadi lokasi prostitusi terselubung setelah Gang Dolly ditutup sejak 2014. “Memang di sini tempatnya. Setiap sopir online kalau ditanya pasti traffic-nya mengarah ke sini (Kedungdoro),” tutupnya. (tim)

Share This: