Malu

Oleh Emhadeazh

 

MALU itu mahal. Untuk menutupi dan membuang malu (shame), banyak orang rela menghabiskan banyak uang. Malu tertangkap tangan korupsi dan menyelewengkan anggaran daerah dan negara. Malu menggelapkan uang perusahaan. Malu ketahuan selingkuh dan punya pasangan simpanan. Malu terjerat narkoba dan/atau melakukan tindakan kriminal.

E. Constant Giawa dan Nani Nurrachman dalam artikelnya berjudul “Representasi Sosial tentang Makna Malu pada Generasi Muda di Jakarta” mengulas berbagai pemicu rasa malu dari berbagai pendekatan. Tulisan tersebut dimuat di Jurnal Psikologi Vol.17 No.1 April 2018, 77-86 yang diterbitkan Fakultas Psikologi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya.

Pada beberapa studi psikologi dalam tulisannya disebutkan bahwa perasaan malu berkaitan dengan kekesalan yang muncul karena adanya perasaan tidak mampu, merasa hina, tidak berdaya dan kegagalan pribadi, tidak berguna dan perasaan rendah diri. Perasaan-perasaan yang berkaitan dengan rasa malu tersebut dapat dikelompokkan ke dalam tiga pembagian yang menyangkut kebermanfaatan diri, prestasi pribadi dan sikap.

Dalam teori Fessler (2004), rasa malu memicu seseorang memodifikasi perilakunya agar mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan. Malu menjadi salah satu faktor penentu perilaku sosial. Seseorang berupaya untuk berperilaku sesuai nilai atau norma yang telah menjadi kesepakatan bersama. Artinya, malu merupakan emosi psikologis yang mencerminkan konteks sosial yaitu norma-norma sosial. Gausel (2012) menyimpulkan bahwa pada konteks sosial inilah rasa malu akan memotivasi individu untuk membatalkan perilaku yang tidak sesuai dengan norma.

Rasa malu pada hakikatnya berkaitan erat dengan kebutuhan manusia untuk menutupi apa yang tersingkap. Merasa malu berarti merasa terlihat oleh orang lain. Gilbert dan Irons (2009) menegaskan bahwa emosi rasa malu berkaitan dengan sering munculnya evaluasi diri saat lingkungan sosial bertentangan dengan perilaku yang ditampilkan, berkaitan dengan keterbatasan sumber daya serta tidak kuatnya perilaku saling mendukung dan peduli di antara anggota kelompok sosial.

Dari perspektif ideologis, malu menjadi suatu sistem nilai yang dijadikan sebagai panduan berperilaku. Rasa malu mengarahkan individu untuk mempertanyakan tentang apa
yang harus dan tidak boleh dilakukan dan mempersoalkan yang baik dan buruk untuk dilakukan. Perilaku yang melanggar nilai kesopanan, kesusilaan atau keluar dari prinsip-prinsip moralitas akan menyebabkan seseorang menjadi malu. Sedangkan dari perspektif sosiologis, rasa malu pada generasi muda berkaitan dengan interaksi sosial yang terjadi dengan lingkungan sekitar. Mereka menjadi malu jika mereka tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Rasa malu berfokus pada hadirnya perbandingan sosial dan pengenalan lingkungan sosial seseorang.

Ditinjau dari perspektif historis, mengemukanya tiga central core struktur representasi sosial rasa malu, sesuai dengan urutan kemunculannya yaitu ketidakyakinan pada diri sendiri, peristiwa yang menimbulkan penilaian negatif dari orang lain serta tampilan fisik yang tak ideal, menunjukkan telah terjadinya pergeseran dari pemaknaan rasa malu pada generasi muda. Lebih jauh jika ditelaah, maka ketiga central core tersebut berkaitan dengan situasi yang mempersyaratkan kehadiran orang lain yang melakukan penilaian.

Hasil penelitian Sumartani dkk. (2016) menyatakan bahwa situasi akan memunculkan rasa malu apabila melibatkan kehadiran orang lain saat suatu peristiwa terjadi. Lebih lanjut penelitian
Anggarasari dan Kumolohadi (2012) menyatakan bahwa rasa malu diartikan sebagai tanda harga diri, karena seseorang dapat dikatakan memiliki harga diri apabila dia memiliki rasa malu.

Sementara itu, malu mungkin tidak berlaku bagi kelompok machiavellian. Ketika melakukan suatu tindakan yang menyimpang, kelompok machiavellian tidak merasa malu (shame) pada tindakan yang telah dilakukannya. Dengan kata lain, individu dengan tingkat machiavellianisme tinggi akan memiliki korelasi negatif dengan kecenderungan rasa malu dan bersalah karena mereka membenarkan segala cara.

Sifat machiavellianisme dalam diri individu juga menimbulkan berbagai akibat pada kepribadian. Individu dengan tingkat machiavellianisme tinggi pada umumnya akan memiliki tingkat external locus of control yang kuat, keterikatan terhadap pekerjaan rendah, dan kecenderungan berperilaku etis yang lebih rendah. Meski demikian, rasa malu akan muncul ketika machiavellian mengalami kekalahan dalam politik perang atau kompetisi tak sehat.

Sehubungan dengan itu, dari berbagai teori tentang malu, kitab Simbur Cahaya dinilai menjadi sumber inspirasi dalam pembangunan karakter masyarakat, khususnya budaya malu di Sumatera Selatan. Dalam hal perumusan peraturan dan perundangan berbasis budaya, Simbur Cahaya dinilai mampu menjadi fondasi awal dalam membangun nilai-nilai dan kearifan lokal, khususnya di daerah pedesaan.

Dr Saudi Berlian, sosiolog dan pengamat budaya Sumsel pernah mengemukakan bahwa Simbur Cahaya berisi keseluruhan hidup masyarakat Sumsel, terutama masyarakat desa. Simbur Cahaya dapat didekati dengan berbagai cara, dari banyak dimensi. Ada semua lapisan kebudayaan di dalamnya.

Nilai-nilai moral yang dapat dipetik dari Simbur Cahaya, di antaranya disiplin, rasa malu dan kebersamaan. Kitab Simbur Cahaya memiliki kaitan yang sangat kuat dengan Kerajaan Sriwijaya. Konteks Sriwijaya dilihat dari aspek Buddha, ada hinayana dan mahayana. Masyarakat Sriwijaya lebih cenderung pada pola masyarakat konservatif dan demokratis. Setelah Islam masuk, kebudayaan diakulturasi hingga Simbur Cahaya cepat berkembang di pedesaan. Pada 1927, Simbur Cahaya dikembalikan lagi setelah isinya banyak yang dihilangkan saat masa kolonialisme. Karena Simbur Cahaya itulah awalnya Belanda gagal masuk ke Sumsel.

Simbur Cahaya, undang-undang tertulis pertama di Nusantara sebelum ada UUD 1945, KUHP 1946, dan peraturan perundangan tertulis lainnya. Berdasarkan informasi dari penerbit “Typ. Industreele Mlj. Palembang, 1922”, Undang Undang Simbur Cahaya terdiri dari lima bagian, yaitu: Adat Bujang Gadis dan Kawin, Adat Perhukuman, Adat Marga, Aturan Kaum, serta Aturan Dusun dan Berladang.

Dilansir Wikipedia, Kitab Simbur Cahaya ditulis Ratu Sinuhun, istri penguasa Palembang, Pangeran Sido Ing Kenayan (1636 – 1642 M). Ratu Sinuhun diperkirakan lahir di Palembang sekitar abad ke-16. Ayahnya bernama Maulana Fadlallah, lebih dikenal dengan nama Pangeran Manconegara Caribon. Di dalam catatan sejarah, Pangeran Manconegara merupakan cikal bakal lahirnya Dinasti Cirebon di Kesultanan Palembang.

Kesultanan Palembang Darussalam sendiri didirikan  oleh Sultan Abdurrahman (Ki Mas Hindi) bin Pangeran Muhammad Ali Seda ing Pasarean bin Pangeran Manconegara Caribon. Sementara Ibunya bernama Nyai Gede Pembayun, yang merupakan putri dari Ki Gede ing Suro Mudo, Penguasa Palembang (1555–1589M). Ratu Sinuhun  masih sepupu suaminya (Pangeran Sido Ing Kenayan,  putra Ki Mas Adipati Angsoko bin Ki Gede Ing Suro Mudo).

Sebagai istri raja, Ratu Sinuhun memang terkenal dengan kepeduliannya terhadap nasib kaum perempuan. Tak hanya di Sumatera Selatan tapi juga di bagian Nusantara lainnya. Simbur Cahaya memacu semangat feminisme terkait persamaan gender antara perempuan dan laki-laki.

Agar bisa menempatkan perempuan sejajar dengan kaum laki-laki, ia pun membuat kitab Simbur Cahaya yang dipadukan berdasarkan nilai-nilai hukum adat yang berkembang secara lisan dengan ajaran agama Islam. Sebelum menjadi sebuah kitab, Ratu Sinuhun mulanya mengumpulkan berbagai aturan yang beredar di masyarakat. Berbagai tatanan aturan dalam kehidupan mulai dari aspek sosial, politik, hingga lingkungan tertera dalam kitab yang terdiri dari ratusan halaman tersebut.

Ratu Sinuhun adalah seorang penganut Islam yang taat (kuat). Hanya saja, belum dapat dilihat secara langsung busana yang digunakan oleh Ratu Sinuhun. Dalam kitab Simbur Cahaya mengatur tentang bagaimana seharusnya seorang perempuan dalam bersikap. Menjadikan malu sebagai bagian dari iman.(*/berbagai sumber)

 

Share This: