Mobil Komando Diambil Alih saat Negosiasi, 47 Mahasiswa di Palembang Terluka dalam Aksi

PALEMBANG, SIMBUR –  Sekitar 47 mahasiswa jadi korban dalam aksi di depan gedung DPRD Sumsel, Selasa (24/9). Sebanyak 28 mahasiswa dirawat di RS RK Charitas dan mengalami luka-luka. Ada juga yang cedera dan patah tulang. Selanjutnya, 6 mahasiswa dirawat di RS Ak Gani karena mengalami luka-luka. Ada yang harus rawat inap karena mengalami patah tulang. Sementara, 13 mahasiswa diketahui dirawat di RS Muhammadiyah.

Aksi ribuan mahasiswa dilatari penolakan disahkannya UU Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang dinilai justru melemahkan fungsi lembaga antirasuah dan RUU KUHP, memantik reaksi keras dari berbagai elemen bangsa, khususnya mahasiswa. Di Palembang, Gedung DPRD Sumsel saat ini dipenuhi dengan berbagai almamater, sementara di gedung wakil rakyat tersebut sedang berlangsung pelantikan anggota DPRD Sumsel terpilih. Di tengah aksi, massa meminta agar mobil komando merapat ke depan pintu gerbang DPRD dan bernegosiasi dengan aparat kepolisian. Hanya saja, mobil komando tetap mendapat halangan dari aparat. Namun sayang, menurut pengakuan mahasiswa, mobil komando aksi berhasil diambil alih oleh orang tak dikenal, lalu sengaja menjalankan mobil dan seolah akan menabrak orang-orang yang ada di depan mobil, termasuk polisi hingga menyulut emosi.

Bentrok pun pecah, mobil yang tadinya dikuasai penuh oleh mahasiswa, justru dirusak oleh sejumlah oknum berpakaian biasa, entah dari mana datangnya. Ketegangan semakin memuncak mencipta suasana mencekam dengan jeritan para mahasiswi yang berlari ke arah mall Palembang Icon. Mahasiswa semakin terpojok, barisan yang tadinya kokoh kini buyar oleh tembakan water canon serta gas air mata. Mahasiswa hanya mampu dibalas dengan lemparan batu dan botol air oleh mahasiswa. Akibat bentrok tersebut, diketahui beberapa mahasiswa mengalami luka baik berat maupun ringan yang dilarikan ke rumah sakit (RS) RK Charitas.

Perwakilan mahasiswa, Radian Ramadani menjelaskan jika pilihan turun ke jalan yang dipilih mahasiswa saat ini untuk menyikapi persoalan-persoalan yang terjadi di Indonesia saat ini. Bentrok antara mahasiswa dan aparat dinilai adalah ulah dari oknum yang tidak bertanggungjawab. “Itu bukan dari pihak mahasiswa, ada orang-orang dari luar, dan itu sudah kami ketahui. Tentang mobil komando yang rusak, sebenarnya itu terjadi karena kesalahan dari kepolisian. Kalau mahasiswa bukan dari kami yang memprovokasi. Mobil itu milik mahasiswa dari HMI,” ujarnya.

Dilanjutkan, massa tidak mengetahui pasti siapa oknum yang telah menghacurkan mobil komando yang seharusnya terjaga dan jangan sampai dikuasai oleh pihak manapun selain massa aksi. “Itu rusak karena banyak faktor yang jelas terkena lemparan dan dipukuli. Saat gas air mata, barusan terpecah dan saat kembali merapatkan barisan sudah dalam keadaan hancur. Kami tidak memiliki bukti konkrit siapa yang memukulnya (merusak),” ungkapnya.

Radian membenarkan jika tuntutan mahasiswa sudah diterima dan ditandatangani oleh Plt Ketua DPRD Sumsel. Namun, dirinya menegaskan jika mahasiswa akan terus mengawasi apa yang sudah disepakati oleh kedua belah pihak. “Hasil pertemuan kami sudah berjuang dan diterima (DPRD), dan sudah ditandatangani. Selanjutnya kami akan followup (mengawal) apa yang sudah disepakati oleh kedua belah pihak. Untuk mengawalnya, kami akan lihat terlebih dulu karena DPRD pasti akan rapat. Kalau misalnya memang sudah menunjukkan itikad baik dan benar-benar dilaksanakan, ya kami selesai. Tugas mahasiswa saat ini adalah mengontrol, bersabar dan terus mengawasi apa pun rapat hasil dewan,” ungkapnya.

Tuntutan dari aliansi mahasiswa Indonesia adalah pertama, merestorasi upaya pemberantasan korupsi,  kolusi dan nepotisme. Kedua, merestorasi demokrasi, hak rakyat untuk berpendapat, penghormatan perlindungan dan pemenuhan hak asasi manusia, dan keterlibatan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan.Ketiga, merestorasi pelaksanaan reforma agraria dan perlindungan sumber daya alam serta tenaga kerja dari ekonomi yang eksploitatif. Keempat, merestorasi kesatuan bangsa dengan penghapusan diskriminasi antar etnis, penghapusan kesenjangan ekonomi, dan perlindungan bagi perempuan.

Di tempat yang sama, Pelaksana Tugas (Plt) Ketua DPRD Sumsel, Anita Noreringhati menyayangkan adanya korban luka-luka dari pihak mahasiswa karena aksi yang awalnya dinilai damai itu. “Tentunya kami sangat paham. Menurut mahasiswa ada korban luka-luka, tentunya nanti ada laporan yang kami minta Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel bertanggungjawab untuk itu. Bentuk pertanggungjawabannya, seperti apa yang telah ditetapkan dalam peraturan,” ujarnya.

Anita memastikan jika DPRD Sumsel akan memperjuangkan apa yang sudah disampaikan oleh mahasiswa. “Tuntutan yang disampaikan ada lima poin yang tentu akan kami perjuangkan untuk ke DPR RI. Kami akan menyampaikan bahwa itu adalah aspirasi aliansi mahasiswa Sumsel. Kalau petisinya sudah ada, maka kami akan tandatangani, tetapi itu tentu adalah sebuah proses. Hal yang pasti saya berbicara dan disaksikan oleh seluruh mahasiswa, saya tidak akan lupa,” janjinya.

Untuk diketahui, usai Anita menemui mahasiswa, terjadi kesepakatan jika Anita akan menandatangani tuntutan mahasiswa Sumsel untuk disampaikan ke DPR RI. Penendatanganan tersebut bisa dijadikan jaminan oleh mahasiswa jika DPRD Sumsel akan meneruskan ke DPR RI.

Sementara itu, Kabag Ops Polresta Palembang, Kompol Dodi Indra menjelaskan bahwa apa yang dilakukan pihak kepolisian sudah sesuai dengan SOP yang berlaku, termasuk tembakan gas air mata yang telak memecah barisan mahasiswa. “Tembakan gas air mata itu sudah ada tahapannya. Kapolresta Palembang juga tadi yang paling depan dan bisa dilihat sendiri untuk mengingatkan mahasiswa, namun massa tetap memaksa ingin masuk. Saat ini kondisi sudah kondusif,” jelasnya sembari menambahkan untuk menjaga kondisi tetap aman dan kondusif, pihaknya akan menyiagakan 200 personil. Jika area sudah clear, maka akan dirolling dengan sistem patroli rutin.

Terkait mobil komando yang rusak, dirinya memastikan akan menyelidikinya terlebih dulu. “Nanti akan kami telusuri. Ada beberapa (oknum) kami tidak bisa ini (memastikan), akan kami selidiki lebih lanjut,” tutupnya. (dfn)

Share This: