Mahasiswa Muhammadiyah Geruduk Polda Sumsel

PALEMBANG, SIMBUR – Tewasnya dua orang mahasiswa Universitas Haluoleo (UHO) Sulawesi Tenggara dan terlukanya puluhan mahasiswa Palembang dalam aksi 24 September lalu yang diduga karena tindakan represif aparat keamanan. Hal itu menimbulkan reaksi prihatin Aliansi Mahasiswa Muhammadiyah Bersatu (AMM Bersatu). Sebagai respons, AMM Bersatu lalu melakukan aksi solidaritas yang mengarah ke depan Polda Sumsel untuk menyampaikan tuntutan terkait tewasnya dua putra terbaik bangsa itu.

Koordinator Aksi, Muhammad Iqbal menegaskan jika pihaknya mengecam tragedi berdarah tersebut, dan meminta kepolisian untuk bertanggungjawab atas penembakan yang menewaskan mahasiswa UHO. “Kami mengecam tragedi penembakan tersebut. Kami menilai aparat kepolisian yang bertanggungjawab terhadap pengamanan aksi telah lalai hingga menimbulkan korban jiwa,” ujarnya lantang di depan Mapolda Sumsel, Senin (30/9).

Untuk itu, AMM Bersatu menegaskan tiga poin pernyataan sikap yang langsung dibacakan di depan aparat kepolisian yang membentuk barikade mengantisipasi massa masuk ke Mapolda Sumsel. “Pernyataan sikap kami, adili dan usut tuntas tindakan represif yang dilakukan aparat terhadap mahasiswa  yang terjadi pada aksi 24 September 2019 di Palembang. Kedua, usut tuntas pelaku penembakan terhadap mahasiswa di Sulawesi Tenggara. Ketiga, copot dan pertanggungjawabkan  di muka hukum Kapolda Sultra karena telah gagal membina jajarannya dalam pengaman unjuk rasa. Keempat, mendesak Kapolri untuk memastikan tidak ada lagi tindakan represif terhadap mahasiwa dan aktivis di Indonesia,” tegas Iqbal.

Kapolresta Palembang, Kombes Pol Didi Hayamansyah mengatakan, aksi berjalan dengan damai. Pihaknya telah mengawal massa sejak di Jembatan Ampera sampai di Mapolda Sumsel. Dirinya berharap aksi berjalan aman dan tertib dan setelah pesan disampaikan, massa membubarkan diri dan kembali dengan tertib.

“Saya tidak ingin berpanjang lebar. Artinya, apa yang menajadi aspirasi rekan-rekan dan belum bisa disampaikan hari ini agar disampaikan kepada saya. Selanjutnya saya akan sampaikan kepada pimpinan saya,” ujar Kapolresta di depan massa.

Terkait, empat poin pernyataan sikap AMM Bersatu, Kapolresta menjamin jika Mabes Polri sedang melakukan investigasi. “Apa yang sudah dilakukan oleh oknum tidak bertaggungjawab itu sudah dilakukan investigasi oleh jajaran Mabes Polri. Rekan-rekan mahasiswa lain juga sudah meminta pertanggungjawaban  atas tindakan oknum tersebut. Mari berdoa, semoga ada hasilnya dan memberikan kedamaian di negara ini,” pungkasnya.

Terkait aksi di depan Mapolda Sumsel, Simbur mencoba melakukan konfirmasi kepada Kabid Humas Polda Sumsel, Kombes Pol Supriadi melalui telepon dan pesan singkat. Namun, sampai berita ini diturunkan, Kabid Humas belum bisa dikonfirmasi.

Untuk diketahui, dalam aksi 24 September lalu, dua orang mahasiswa UHO, Immawan Randi (21) tewas setelah peluru tajam menembus dadanya dan Muhammad Yusuf Kardawi yang tewas setelah mengalami luka parah di bagian kepala. Aksi yang terjadi di Palembang juga tidak luput dari sorotan. Pasalnya, pada aksi tersebut setidaknya ada 62 korban kekerasan yang terdata akibat bentrok mahasiswa dan polisi di depan gedung DPRD Sumsel. (rgs)

Share This: