Aktivis Mahasiswa Sebut Ada yang Mengintai

PALEMBANG, SIMBUR – Aliansi Sumsel Melawan yang terdiri dari unsur mahasiswa, organisasi luar kampus dan aliansi masyarakat, kembali turun ke jalan melalui aksi solidaritas bagi dua mahasiswa yang gugur serta satu siswa STM dan korban luka-luka dalam beberapa aksi mahasiswa saat ini.

Kordinator aksi Aliansi Sumsel Melawan, Radian Ramadhan memastikan jika aksi kali ini damai, namun pihaknya tetap mengutuk tindakan represif yang dilakukan aparat kepolisian terhadap peserta aksi di berbagai wilayah termasuk di Palembang beberapa waktu lalu. “Kami mengutuk keras tindakan represif aparat kepolisian maupun aparat keamanan dalam mengatasi aksi unjuk rasa mahasiswa. Karena memang demokrasi adalah sesuatu yang suci di negara yang menganut paham demokrasi,” tegasnya saat aksi di bundaran air mancur, Selasa (1/10).

Ke depan, lanjut Radian, pihaknya juga akan menindaklanjuti nota kesepakatan yang sudah disepakati dengan DPRD Sumsel. “Kami akan membutuhkan tim panelis, kemudian kami akan melihat bagaimana kinerja dari DPRD Sumsel terhadap tuntutan yang disepakati saat itu. Sampai saat ini kami dengan DPRD Sumsel belum ada komunikasi, setelah aksi ini kami akan berkomunikasi dengan mereka bagaimana kelanjutan tuntutan kami saat itu,” ungkapnya.

Terkait upaya penangkapan yang dilakukan orang tak dikenal (OTD) terhadap Presma Unsri beberapa waktu lalu, Radian dengan tegas mengatakan jika pola itu adalah produk Orde Baru (Orba). “Jelasnya kami tidak ingin kembali ke zaman Orba. Kalau ada penangkapan-penangkapan seperti itu berarti jelas kita kembali ke zaman itu. Kami akan berusaha semaksimal mungkin agar itu tidak terjadi,” tegasnya.

Walau merasa tidak ada lagi bentuk intimidasi seperti yang dialami Presma Unsri, namun Radian mengakui jika ada OTD yang diduga mengintai para mahasiswa pergerakan di Palembang. “Kalau intimidasi sih tidak ada, cuma ada beberapa orang yang diduga ikut (mengintai). Kami lihat-lihat dulu kenapa mereka ikut. Yah, orang-orang itu yang diluar dari aliansi kami (OTD),” ungkapnya.

Walau ada sentimen sebagian pihak yang mengatakan aksi mahasiswa akan bermuara ke pelantikan presiden 20 Oktober mendatang, namun dengan tegas di bantah Radian. “Kalau sampai situ kami tidak ada eskalasi untuk tanggal 20 mendatang (pelantikan presiden). Pokoknya ini adalah aksi solidaritas untuk kawan-kawan kami yang menjadi korban. Jadi tidak ada hubungannya dengan tanggal 20,” bantahnya.

Terkait aksi poin aksi mahasiswa yang menolah UU KPK yang sebelumnya sudah ketok palu, Radian mengatakan jika kemungkinan akan ada aksi lanjutan sampai Perppu Presiden diterbitkan.

“Yah, ada kemungkinan akan ada aksi-aksi lanjutan jika memang Perppu itu belum diterbitkan oleh presiden. Soal UU KPK dan Perppu yang masih tarik ulur, kami serahkan ke kawan-kawan yang ada di pusat (Jakarta). Tugas kami mendukung dan memberi support mental kepada mereka yang di pusat,” pungkasnya. Untuk diketahui, aksi solidaritas Aliansi Sumsel Melawan bukan hanya dalam bentuk orasi terbuka, melainkan juga ada aksi bakar lilin, pembacaan puisi dan pembacaan doa bagi para korban.

Aliansi Sumsel Melawan dalam aksi solidaritasnya juga menyampaikan lima poin pernyataan sikap. Pertama, mendesak DPRD Sumsel untuk menindaklanjuti nota kesepakatan yang disampaikan Aliansi Sumsel Melawan pada 24 September 2019. Kedua, Aliansi Sumsel Melawan mengecam tindakan represif aparat terhadap massa aksi, tim medis dan lembaga pers yang dilakukan pada 24 September 2019. Ketiga, mendesak presiden untuk mendorong pengadilan pelanggaran HAM yang ada di Indonesia, sebagai usaha penyelesaian kasus HAM. Keempat, menuntut DPR RI melindungi kebebasan berpendapat dengan UU nomor 9 tahun 1998. Kelima, mendesak Kapolri RI untuk segera menindaklanjuti kasus tindakan represifitas yang terjadi di Sulawesi Tenggara, dengan memberikan hukuman sesuai dengan UU. (dfn)

Share This: