Diduga Motif Utang Bisnis Mobil, ASN Dibunuh lalu Dicor Semen di TPU Kandang Kawat

PALEMBANG, SIMBUR  – Pembunuhan sadis kembali terjadi di Palembang. Tersangka Yudi Thama yang masih rekan kerja korban Apriyanita. Keduanya merupakan aparatur sipil negara (ASN) di Kementerian PUPR Satker-PJN Wilayah III.  Pelaku tega menghabisi nyawa korban lalu menguburnya dengan cara dicor semen di tempat pemakaman umum (TPU) Kandang Kawat, Palembang.

Dari pengakuan tersangka, Yudi diduga sedang terlilit utang bisnis bersama yang mereka lakukan berdua. Pembicaraan mengenai utang tersebut mengakibatkan terjadi perang mulut dan berujung pada rencana pembunuhan oleh Yudi dan pamannya, Novi.

“Awalnya pada selasa (8/10), esok harinya juga dia menanyakan apakah uangnya sudah ada. Saya lalu menjawab baru siap Rp15 juta. Namun korban tidak terima dan meminta saya menyiapkan uang tersebut malam itu juga. Dari situlah saya kesal dan kami bertengkar mulut dalam mobil,” ungkapnya saat dimintai keterangan di Polda Sumsel, Jumat (25/10).

Dilanjutkan, Setelah itu korban berkeras tetap ikut dengan Yudi. Sebelum absen di kantornya, Yudi lalu mampir ke rumah pamannya, Novi di Kandang Kawat. “Saya lalu menceritakan kepadanya soal utang itu dan korban yang tidak mau pulang. Kami sudah merencanakan pembunuhan itu. Dia menyuruh saya kembali lagi malam harinya. Tapi ide itu muncul dari Novi. Novi bilang kita bunuh saja dia. Saya bisa mengurus itu. Saya disuruh menyiapkan uang Rp15 juta,” kisah Yudi.

Setelah itu, Yudi ke kantor untuk absen lalu mampir ke swalayan untuk membeli air mineral dengan obat tetes mata untuk dicampurkan. “Tujuannya diberi minum agar dia lemas,” katanya.

Direktur Direktorat Reskrimum Polda Sumsel, Kombes Pol Yustan Alfiani menjelaskan, motif pembunuhan sadis tersebut adalah utang. Pelaku meminjam uang dan berjanji untuk bisnis mobil. Saat itu korban sedang butuh uang, tetapi saat ditagih pelaku tidak punya uang untuk membayar utang. “Kalau menurut tanda bukti transfer itu, sekitar Rp200 jutaan. Tanda bukti itu ditemukan di tas korban di rumahnya. Jadi korban menagih utang dan uangnya tidak ada, namun korban tetap berkeras terus menagih karena uang tersebut lagi dibutuhkan. Karena bingung dan korban tidak mau turun dari mobil, Yudi lalu membeli obat tetes mata yang dicampur di minuman. Akhirnya, korban meminum air itu dan lalu lemas. Yudi lalu menelepon Novi dan Amir. Di mobil itulah korban dibunuh dengan cara dijerat,” jelasnya.

Dilanjutkan, keluarga korban melapor ke Polda Sumsel pada 14 Oktober lalu. Berawal dari laporan itulah petugas melakukan penyelidikan. Sebenarnya, pada saat dilaporkan, besoknya petugas sudah curiga bahwa pelaku adalah Yudi, cuma karena korban belum ditemukan dan alat bukti belum cukup maka petugas hanya memeriksa dia.

“Tetapi kami sudah yakin dia pelakunya. Setelah itu, kami berbagi tugas dan bekerja non stop. Akhirnya ditemukanlah korban. Kan sejak 15 Oktober sampai hari ini Yudi sudah beberapa kali diperiksa dan keterangannya berbeda-beda. Alibinya juga setelah dicek tidak sesuai dengan keterangannya, dia berbohong. Hanya saja kami belum ketemu dimana (korban). Dari hasil penyelidikan kami, dia tidak sendiri dan pasti dibantu orang lain. Dia dibantu oleh pamannya (Novi) dan Amir,” katanya sembari memastikan jika pelaku akan dijerat dengan pasal 340 tentang pembunuhan berencana yang hukuman maksimalnya hukuman mati atau seumur hidup.

Dihubungi terpisah, Kepala BBPJN V Palembang, Ir Kgs Saiful Anwar MT merespon kejadian yang melibatkan pegawai di bawah BBPJN V Palembang. Pihaknya sudah mengantisipasi dengan memperketat disiplin pegawainya. “Kami belum mendapat berita resmi dari kepolisian bahwa pelakunya siapa saja, hanya membaca dari media sosial saja. Tetapi kami sudah antisipasi supaya ke depan para pegawai diperketat disiplinnya, absensinya, rekruitmennya,” ujarnya.

Terkait pelaku yang merupakan pegawai honorer, Saiful mengatakan sudah melakukan seleksi ketat saat melakukan penerimaan. “Para honorer juga kami seleksi ketat semua termasuk yang bersangkutan (Yudi). Hanya saja dalam perjalanan yang dia lakukan tidak ada kontrol dari kami. Itukan teman kerja, sejawat yang menjemput kami pikir itu hal yang biasa (lumrah). Dengan kejadian itu, kami akan lebih tingkatkan (pengawasan) pegawai yang ada kerjaan-kerjaan di luar dari jam kerja akan ditertibkan,” tegasnya.

Sementera, sahabat korban, Nurmaisyah yang sangat terpukul dengan kematian tidak wajar sahabatnya itu, menyayangkan aksi kejam rekan kerja mereka itu. “Korban adalah sahabat saya. dulu kami satu kantor di Kementerian PUPR Satker-PJN Wilayah III. Alangkah tega pembunuhnya. Korban itu baik orangnya dan tidak pernah mengganggu orang lain. Dia ini mungkin ditipu oleh Yudi. Dia itu kan dikenal dengan “besak gaya” (parlente).

Diakui jika dirinya tidak mengenal pelaku sama sekali. Namun, cerita tentang Yudi sudah beredar luas di lingkungan kantor mereka. “Memang saya tidak pernah kenal dengan pelaku, tetapi dapat cerita dari rekan kantornya jika yang bersangkutan itu besak gaya. Kabarnya, korban itu dimanfaatkan karena gaya pelaku seperti menyakinkan, maka diajaklah kerjasama (bisnis) oleh korban. Kurang ajar sekali dia, masa sih ada teman seperti itu. Kami tidak pernah mengalami kejadian seperti ini, baru sekali inilah seumur-umur teman kantor model seperti Yudi,” pungkasnya dan menambahkan jika korban juga memiliki usaha kos-kosan dan rumah makan. (dfn)

Share This: