Pertumbuhan Ekonomi Digital Melonjak Drastis pada 2025

JAKARTA, SIMBUR – Jasa keuangan digital di Indonesia diprediksi bakal mengalami peningkatan drastis pada 2025 mendatang. Hal itu berdasarkan laporan Bain & Company, Google dan Temasek. Laporan tersebut dikemas dengan tajuk “Masa Depan Industri Jasa Keuangan Digital Asia Tenggara”.

Dalam laporan itu menunjukkan kiprah Asia Tenggara sebagai salah satu wilayah terbesar dan paling berkembang pesat di dunia. Namun sayang, sekitar 75 persen konsumennya masih belum atau tidak memakai layanan perbankan. Akses terhadap jasa keuangan juga terbatas. Sementara, jasa keuangan digital menawarkan aksesibilitas kepada basis pelanggan potensial tersebut, mengingat tingginya penetrasi dan interaksi ponsel canggih di Asia Tenggara. Dengan demikian, hal ini memfasilitasi penggunaan jasa keuangan yang melekat pada aplikasi seluler (embedded financial service) secara lebih luas.

Laporan ini memuat data dari survei konsumen dan gerai ritel, dilengkapi wawancara dengan para pakar serta bank data. Riset tersebut menjadi bagian dari laporan “2019 e-Conomy SEA”  yang mengulas enam pasar terbesar di Asia Tenggara: Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand dan Vietnam.

Dari laporan tersebut, di antara sejumlah jasa keuangan digital, pembayaran digital termasuk yang paling mutakhir dan nilai transaksinya kelak menembus US$1 triliun pada 2025. Pembayaran digital dan pengiriman uang digital berada di titik balik (inflection point). Beberapa layanan lainnya—pinjaman, investasi, dan asuransi digital—masih tergolong baru, namun masing-masing layanan ini akan tumbuh lebih dari 20 persen per tahun hingga 2025. Pinjaman digital tentu menjadi kontributor terbesar terhadap omzet jasa keuangan digital, berkat sejumlah inovasi pada pinjaman konsumer serta usaha kecil dan menengah (UKM).

“Perekonomian internet di Asia Tenggara tumbuh dengan pesat, dan segera menembus US$ 300 miliar pada 2025. Bersama e-commerce serta transportasi daring (ride-hailing), pembayaran digital telah mencapai titik balik dan kini membuka jalan bagi inklusi keuangan digital yang lebih luas,” ujar Stephanie Davis, Managing Director Google Asia Tenggara.

Segmen konsumen yang belum begitu sering memanfaatkan layanan perbankan tercatat sebanyak 98 juta jiwa di enam negara penting ASEAN. Segmen ini mencerminkan potensi terbesar dan benar-benar menjadi mesin pertumbuhan bagi pasar jasa keuangan digital. Sebaliknya,  perlu mencermati bahwa jasa keuangan digital tidak akan menjadi perangkat sakti dalam menjangkau populasi yang tidak memiliki akses sama sekali ke layanan perbankan. Berbeda dari anggapan yang lazim, teknologi finansial dan platform teknologi konsumer belum berdampak positif di tengah segmen penduduk yang tidak memakai layanan perbankan. Kalangan pemerintah dan perusahaan telekomunikasi harus berperan penting dalam mempercepat pengembangan infrastruktur agar mampu melayani segmen penduduk ini dengan efisien. Kedua kalangan tersebut juga perlu memadukan aksesnya dengan produk dan kemampuan penjaminan yang baik dari para mitra.

“Kami memperkirakan, tingkat penggunaan teknologi finansial dan platform teknologi konsumer di Asia Tenggara akan bertambah luas. Para pemain baru juga mampu menutupi kesenjangan dalam aspek kepercayaan produk saat menghadapi pemain yang telah mapan, khususnya di pasar-pasar yang cepat berkembang seperti Indonesia dan Vietnam. Sejumlah perusahaan yang kelak tampil sebagai pemimpin industri harus bisa menjembatani konsumen dan gerai ritel,” jelas Aadarsh Baijal, Partner & Leader, Digital Practice, Asia Tenggara, Bain & Company.

Agar Asia Tenggara mampu mewujudkan potensinya secara utuh, lanjut dia, regulasi pendukung harus dibuat. “Infrastruktur keuangan yang kuat dan pendanaan dengan skala memadai juga harus terwujud,” terangnya.

Di tengah banyaknya pemain baru yang merambah pasar, mereka menilai, konsumen dan gerai ritel tidak akan sepenuhnya meninggalkan jasa perbankan. Perbankan memiliki akses permodalan dan layanan penyimpanan uang yang diregulasi. Sebaliknya, pendanaan dan pengelolaan neraca tetap menjadi risiko potensial bagi perusahaan teknologi finansial. Kedua aspek ini perlu diperhatikan supaya bisnis penyaluran pinjaman digital mampu mencapai skala yang memadai. Jika pasar betul-betul mau berbagi data lewat perbankan terbuka (open banking), Bain memprediksi perubahan model bisnis akan berlangsung cepat, serta menyajikan berbagai peluang yang kian luas untuk membuat terobosan.

Rohit Sipahimalani, Joint Head, Investment Group, Temasek berkata, perlu menjalankan investasi yang berfokus pada berbagai solusi inovatif. Investasi ini dapat mendorong tingkat penggunaan jasa keuangan digital di Asia Tenggara. “Bersama kalangan bisnis, pemerintah, dan komunitas, kami bertekad untuk ikut memperluas aksesibilitas dan inklusivitas keuangan di kawasan ini,” ungkapnya.(kbs/prn)

 

Share This: