Pulang Umrah, Sempat Diduga Suspect Corona

PALEMBANG, SIMBUR – Seorang jemaah umrah asal Kota Prabumulih dikabarkan harus menjalani pemeriksaan medis saat tiba di terminal kedatangan Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, Selasa (3/3) sekitar pukul 13.59 Wib. Msy (64) tercatat sebagai penumpang pesawat berlogo singa terbang  yang landing pukul 10.20 Wib dari Jedda.

Warga Gunung Ibul, Kota Prabumulih itu dikabarkan terindikasi virus Corona. Pasien dibawa petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan Bandara SMB II dengan menggunakan ambulans menuju Rumah Sakit Mohammad Husein (RSMH) Palembang sekitar pukul 14.10 Wib. Beredar informasi dari pihak keluarga pada sore hari, pasien dinyatakan negatif Corona.

Informasi yang dihimpun, pasien dimaksud masih dalam observasi karena suhu badannya tinggi di atas 38 derajat. “Belum bisa dikatakan suspect Corona,” ungkap sumber di KKP yang tak ingin namanya disebutkan.

Humas RSMH Palembang, Ahmad Suhaimi kepada wartawan membenarkan adanya seorang pasien yang merupakan jemaah umrah dievakuasi. Pasien tersebut ditempatkan di ruang isolasi guna pemeriksaan kesehatan lebih lanjut oleh tim dokter. “Iya benar, diisolasi sesuai dengan prosedur. Untuk perkembangan lebih lanjut saya belum tahu, dan nanti disampaikan,” katanya kepada pers.

Hingga berita ini diturunkan, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan, Dra Lesty Nurainy Apt MKes belum berhasil dikonfirmasi. Meski demikian, informasi yang beredar masih terus ditelusuri.

Dihubungi terpisah, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Palembang, dr Zulkhair Ali SpOG pun mengatakan belum mengetahui kabar tersebut. “Belum dapat info. Saya baru pulang dari rumah sakit (RSMH Palembang),” ungkapnya.

Zulkhair Ali menjelaskan, setiap orang yang baru tiba dari luar negeri dapat dijadikan “tersangka” (suspect Covid-19). “Kalau yang datang dari luar negeri harus dibuat sebagai ‘tersangka’ tapi belum bisa dinyatakan mengidap (Coronavirus). Sama seperti kabar yang pulang dari umrah tadi. Biasanya kita pulang dari luar negeri sering demam. Karena lagi ramai Corona ini, semua patut diduga sebagai tersangka (suspect), lalu dirontgen dan dibawa ke laboratorium untuk mengetahui hasilnya positif atau negatif,” ungkapnya.

Dokter spesialis penyakit dalam itu menepis semua pernyataan masyarakat luar negeri bahwa Indonesia menutup-nutupi virus Corona yang menggemparkan dunia. “Syukur selama ini memang tidak ada. Orang luar menilai Indonesia salah periksa, padahal fasilitas maupun tenaga medis Indonesia, termasuk di Sumsel, cukup lengkap,” tegasnya seraya menambahkan, IDI wajib peka terhadap penyakit ini dan wajib melindungi diri. “Dokter juga harus pakai sarung tangan dan pelindung saat menangani pasien terpapar Corona,” imbuhnya.

Ditanya kesiapan dokter yang tergabung dalam IDI Palembang dalam mengantisipasi Covid-19 di Sumatera Selatan, Zulkhair menerangkan, biasanya dokter anggota IDI cabang Palembang bekerja sama dengan rumah sakit tempat di mana dokter itu bekerja.

“Secara personal anggota IDI. Secara institusi mereka sebagai bagian institusi rumah sakit yang menangani kasus (Corona) ini. Mulai dari Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) hingga rumah sakit rujukan lainnya yang merupakan satu-kesatuan. Secara kelembagaan, diatur Dinas Kesehatan Sumsel untuk mengelola dengan baik dan terstruktur,” terangnya.

Masih kata dia, sebetulnya secara umum kewaspadaan terhadap Coronavirus sudah tingkat tinggi. “Masing-masing dokter dalam setiap bekerja selalu menanyakan ketika ada orang yang meiliki gejala panas, batuk, pilek, mereka (dokter) mengonfirmasi apakah ada hubungan dengan orang-orang yang baru berangkat ke luar kota atau pulang dari luar negeri,” tutupnya. (maz)

Share This: