Sulit Kelola OTG dan Hidden Carrier di Sumsel

PALEMBANG, SIMBUR – Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan kesulitan mengelola data orang tanpa gejala (OTG) yang berpotensi terdampak Covid-19. Itu karena selama ini hanya terfokus pada orang dalam pemantauan (ODP), pasien dalam pengawasan (PDP) dan pasien terkonfirmasi positif Corona. Hal itu diungkap Juru Bicara Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 Sumsel Prof Dr dr Yuwono MBiomed.

“Orang Tanpa Gejala atau OTG adalan hidden carrier. Secara umum kami kesulitan untuk kelola ini. Dari sisi pemerintah, prioritas ODP risiko tinggi dan PDP. Dari sisi OTG mereka (terlihat) ‘sehat-sehat saja’, no problem,” ungkap Prof Yuwono kepada Simbur, Senin (6/4).

Di Sumsel sendiri, hingga 5 April 2020, Pemprov telah merilis sebanyak 1.643 ODP, di mana ODP selesai pemantauan sebanyak 574 orang dan masih dalam pemantauan sebanyak 1.069 ODP. Sementara untuk jumlah PDP ada 44 orang. Jumlah PDP yang negatif covid sebanyak 28 orang. Sebanyak 24 orang dipulangkan, 16 orang masih dalam perawatan, dan 1 penambahan PDP. Sample yang sudah diperiksa di laboratorium sebanyak 107 orang, jumlah sampel positif 16 orang dan jumlah sampel negatif sebanyak 63 orang serta masih dalam proses pemeriksaan 28 orang.  Dua orang telah meninggal dunia.

Terjadinya penambahan kasus baru ini mengindikasikan bahwa penularan masih terjadi di Sumsel. Menurut Yuwono, pemerintah khawatir penularan justru terjadi melalui orang tanpa gejala (OTG). Dalam hal ini, orang yang merasa dirinya sehat menjadi pembawa atau carrier virus corona namun menyebarkannya kepada orang lain. Karena itu, penting bagi masyarakat untuk tetap menerapkan social distancing dan physical distancing. “Tindakan pemerintah, memeriksa sebanyak mungkin OTG yang diketahui agar bisa disarankan karantina diri,” tutupnya.

Dilansir berbagai sumber dari penelitian para ahli, salah satu  gejala orang yang terinfeksi virus corona menunjukkan hal yang sama dengan hidden carrier virus corona. Gejala ini umumnya dirasakan oleh orang-orang yang masih muda. Para pembawa virus corona terselubung ini yang sulit dideteksi. Pasalnya mereka tidak mengalami panas tinggi, batuk-batuk, mau pun sesak napas. Salah satu cirinya antara lain, kehilangan indra penciuman, atau biasa dikenal sebagai anosmia atau hyposmia.

Siapa pun yang mengalami kehilangan bau secara tiba-tiba meski pun mereka tidak memiliki gejala lain, menurut bukti yang dikumpulkan oleh ahli, bisa jadi orang tersebut diduga membawa virus corona di tubuhnya. Minimnya gejala yang dirasakan oleh seorang hidden carrier ini membuat mereka lolos dari pengujian atau isolasi. Mereka bukan suspect virus corona. Akan tetapi, mereka justru berkontribusi terhadap penyebaran COVID-19 yang begitu cepat.(kbs)

Share This: