Dilihat dari Pola Kematian, Mei 2020 Diperkirakan Puncak Virus Corona di Indonesia

PALEMBANG, SIMBUR – Coronavirus Disease 19 (Covid-19) di Indonesia diperkirakan mencapai puncaknya pada Mei 2020. Prediksi itu dapat diketahui jika kasus Corona dilihat dari pola kematian yang terus mengalami penurunan. Bukan dari penambahan jumlah pasien positif. Hal itu diungkap Prof Dr dr H Yuwono MBiomed, juru bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sumsel.

“Kalau melihat pola (virus), cek pola kematian. Kalau melihat penambahan jumlah pasien positif itu sudah biasa,” ungkap Prof Yuwono, dikonfirmasi Simbur, Kamis (9/4).

Menurut Yuwono, tolok ukurnya di Jakarta. Dijelaskannya, sekitar 3-4 hari lalu pola kematian akibat Covid-19 di Jakarta menurun. Dari pola kematian itu, lanjut dia, tinggal dilihat penurunannya. Yuwono juga membandingkan dengan Italia. Selama seminggu, kematian di Italia terus menurun, dari 600 menjadi 500 orang per hari.

“Mudah-mudahan kalau seminggu pola Jakarta itu turun, virus mencapai puncak bulan Mei 2020 bisa terjadi. Kalau sudah (melewati masa) puncak, siklus virus itu turun (hilang). Saya lihat pola itu di Cina,” jelasnya.

Sementara itu, virus selain Covid-19 juga dapat muncul dalam waktu bersamaan. Yuwono menerangkan, ada tiga jenis penyakit yang disebabkan kemunculan virus. Pertama, emerging, yakni penyakit yang baru muncul. Menurut dia, baru muncul di sini maksudnya belum ada (kasus) di daerah tertentu, misalnya hantavirus.

Kedua, re-emerging, yakni penyakit yang muncul kembali seperti demam berdarah dengue (DBD). Ketiga, new-emerging, yakni penyakit yang benar-benar baru, misalnya Corona karena kasusnya ada mutasi. “Sangat mungkin terjadi coincident, terjadi bersama-sama. Biasanya kalau bersamaan, yang dominan itu yang jadi perhatian,” tutupnya.

Terpisah, dr Theodorus, pakar farmakologi di Sumatera Selatan mengatakan, sumber virus berkembang di daerah lembap. “Jakarta paling banyak terpapar Covid-19. Itu karena daerah terjangkit tersebut rawan banjir. Virus ini berkembang di daerah lembap dan suhu dingin. Belum lagi sumber air bersih yang terkontimasi banjir. Berapa banyak tikus yang mati di saluran air. Lihat saja datanya, hampir sebagian besar pasien terpapar Covid-19 tinggal di daerah rawan banjir. Selain virus Corona, Hantavirus yang berasal dari Cina dan virus lainnya juga perlu diwaspadai,” ungkapnya sembari mengatakan hingga kini belum terkonfirmasi virus lain selain Covid-19.

Terkait negara-negara maju yang lebih cepat dan banyak terpapar virus Covid-19, dia menjelaskan, itu karena pola hidup masyarakat dan protokol kesehatan masing-masing. Dalam hal ini, Amerika Serikat dan Italia telah mengonfirmasi dengan jumlah korban virus Corona terbanyak, melebihi Cina.

“Orang sana (Amerika dan Eropa) sudah terbiasa hidup bersih. Ketika terjangkit wabah, mereka tidak malu-malu melaporkan sehingga jumlahnya pasien terkonfirmasi sangat banyak. Beda dengan orang kita (Indonesia) yang masih menganggap semua penyakit itu hal biasa,” terangnya.

Diketahui, dari data yang dihimpun pada 9 April 2020, sebanyak 280 pasien positif Covid-19 di Indonesia meninggal dunia. Jumlah tersebut bertambah sebanyak 40 pasien jika dibandingkan dengan data sehari sebelumnya. Jakarta masih menjadi yang tertinggi dengan total 142 (28 kasus baru). Total terdapat 3.293 pasien positif Covid-19 dan 252 pasien dinyatakan sembuh.

Adapun jumlah pasien meninggal sebanyak 280 orang dengan rincian DKI Jakarta 142 (28 kasus baru), Jawa Barat 40 (5 kasus baru), Jawa Tengah 22, Banten 20 (2 kasus baru), Jawa Timur 17 (1 kasus baru), dan Sulawesi Selatan 8 (2 kasus baru).

Selanjutnya, DI Yogyakarta 7, Sumatera Utara 4, Bali 2, Kalimantan Barat 2, Sumatera Selatan 2, Papua 2, Sulawesi Tengah 2, Kalimantan Selatan 2 (kasus perdana), dan Aceh 1. Kemudian, Bangka Belitung 1, Bengkulu 1, Kalimantan Timur 1, Kepulauan Riau 1, dan Lampung 1, Papua Barat 1, dan Sulawesi Utara 1.(maz)

Share This: