Baru Uji Coba Sudah Ada yang “Kabur”

# Warga Menilai Pemkot Palembang Terlalu Spontan dan Berlebihan Terapkan Aturan

PALEMBANG, SIMBUR – Hari pertama uji coba penerapan Instruksi Wali Kota Palembang Nomor I/2020, sebanyak 33 warga Kota Palembang terjaring razia tidak memakai masker saat berada di luar rumah. Namun apa lacur, ternyata yang terdata dikarantina di Asrama Haji Palembang hanya 32 orang.

Dikabarkan satu orang “kabur” atau bisa lolos pulang ke rumah. Simbur berusaha menelusuri kebenaran informasi tersebut di lokasi karantina. Pantauan di lapangan, berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan, tak satu pun dari 32 warga yang dikarantina itu terpapar Covid-19.

“Sudah ada 33 orang yang sedang diamankan karena tidak pakai masker. Sudah dikumpulkan dan diedukasi di sini. Saya tidak terpantau (ada yang kabur). Itu urusan yang nangkap, polisi sama Pol PP,” ungkap Ahmad Zulinto, Ketua Bidang Pencegahan Gugus Tugas Covid-19 Kota Palembang

Zulinto menjelaskan, program karantina ini berlangsung selama lima hari ke depan. Menurut dia, gugus tugas telah menyiapkan 50 kamar untuk menampung warga yang terjaring razia dan dikarantina di Asrama Haji Palembang. Satu kamar, lanjut Zulinto, diisi dua orang dan berlangsung lima hari sejak hari ini.

“Lima hari ini uji coba shock therapy. Apakah ada kelanjutan atau tidak kami lihat lagi nanti. Saya yakin dengan dilaksanakan (karantina) masyarakat dapat sadar diri,” terangnya.

Masih kata Zulinto, penertiban ini dilakukan sebagai shock therapy bagi warga yang tidak menaati peraturan pemerintah, dalam hal ini Pemkot Palembang. “Ini kan penertiban, shock therapy tapi tetap diedukasi. Di sini mereka diamankan namun tetap mendapat edukasi. Bukan serta merta ditangkap dan dikarantina selama 1×24 jam,” tegasnya.

Terkait sanksi yang diberikan apabila ada warga yang sudah dikarantina tapi kembali terjaring razia lagi, Zulinto menegaskan itu bukan ranahnya. “Pemberian sanksi itu dari pihak yang menangkap. Kami di sini hanya menampung. Pada prinsipnya ini pencegahan,” ujarnya.

Lanjut Zulinto, pihaknya tidak berharap ada warga yang ketangkap dua kali. Karena, jelas dia, di sini bentuknya penyadaran tentang penyebaran penyakit Corona. Diterangkannya, ada hal-hal yang harus dilakukan dengan konsisten, seperti memakai masker supaya tidak ada hubungan langsung dengan orang lain.

“Jangan berharap sudah ketangkap hari ini, besok-besok tertangkap lagi. Jangan dikira yang masuk di sini bisa langsung tidur di kamar, dikasih makan. Mereka harus antre panjang, didata satu satu dan dicek kesehatannya, diedukasi dulu. Setelah buka puasa, baru masuk kamar. Besok siangnya boleh pulang,” urainya.

Disentil banyak kepala sekolah (kepsek) yang seharusnya bekerja dan mengajar di rumah tapi terlibat panitia karantina, Kepala Dinas Pendidikan Kota Palembang itu menjawab agar lebih memudahkan koordinasi.

“Kepsek kami jadikan panitia untuk penerimaan di sini supaya mudah koordinasi. Kalau saya panggil orang Dishub dll pusing saya. Supaya koordinasi mudah, mereka ada bagian piket. Dibagi tugas, ada bagian pencatatan kamar dan konsumsi. Kalau orang luar (Dinas Pendidikan) belum tentu bisa saya koordinasi,” tegasnya.

Sebelumnya, Wali Kota Harnojoyo menjelaskan, saat ini Pemerintah Kota Palembang telah lakukan persiapan pemberkasan untuk pengajuan PSBB. “Insya Allah segera akan kami sampaikan ke Gubernur,” kata H Harnojoyo di Rumah Dinas Walikota, Jalan Tasik Palembang, Kamis (30/4).

Wako juga menjelaskan, hari ini akan diberlakukan juga sanksi terkait penegasan Instruksi Walikota Palembang Nomor I/2020 tentang Peningkatan Pengendalian Pencegahan dan Penanganan Penularan Covid-19 di Kota Palembang. “Jadi bagi masyarakat yang belum mengindahkan aturan tersebut, maka akan kami beri sanksi ditampung di Asrama Haji 1×24 jam,” jelas Harnojoyo.

Masih kata H Harnojoyo, Pemkot Palembang juga akan terus mengikuti setiap instruksi pusat. “Apapun yang menjadi aturan instruksi dari pusat, akan kami lakukan di daerah,” tegasnya.

Diwawancara terpisah, warga berinisial DA yang terjaring razia dan dikarantina mengaku telah menjadi korban dari program tersebut. “Peraturan yang diterapkan terlalu spontan dan berlebihan,” ungkapnya.

Warga Gandus itu mengaku lupa memakai masker karena harus buru-buru mengantar pesanan. Dia terjaring razia saat melintas di fly over Simpang Polda. “Pemerintah terlalu spontan dan berlebihan. Harusnya dibagikan saja masker, bukan langsung ditangkap. Belum tentu kami yang ditangkap ini positif Corona,” kritiknya.

Sudarsono, orang tua yang ingin membesuk anaknya AS tidak diperbolehkan masuk oleh Pol-PP yang berjaga. Padahal, Sudarsono bersama istri sengaja datang dari rumahnya di Kertapati hanya ingin memastikan anaknya yang duduk di kelas 2 SMA dan masih di bawah umur itu benar dikarantina di Asrama Haji Palembang.

“Diajak kawannyo minta rewangi beli headset. Kawannyo pake masker, dio idak. Kawannyo balek, dio dibawa. Susah kami, namonyo anak. Puaso pulo. Disuruh ninggali duit (untuk anak), kami dak katek. Motor bae minjem. Besok bae sekalian dijemput,” keluhnya.(maz)

Share This: