Sempat Meledak dalam Sehari, Pendataan Jumlah Pasien Positif Covid-19 di Sumsel Dievaluasi

PALEMBANG, SIMBUR – Jumlah pasien positif Covid-19 di Sumatera Selatan sempat meledak sebanyak 119 kasus dalam sehari pada 14 Mei 2020. Karena itu, pola pendataan yang dilakukan tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Sumsel dievaluasi. “Kami evaluasi secara menyeluruh,” ungkap juru bicara Prof dr Yuwono Biomed, dikonfirmasi Simbur, Sabtu (16/5).

Menurut Prof Yuwono, ada tiga poin penting hasil evaluasi yang dirapatkan Gubernur bersama organisasi perangkat daerah (OPD), Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Palembang dan juru bicara (jubir) Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sumsel. Pertama, jelas Yuwono, secara teknis ditemukan beberapa hal yang cukup signifikan terkait pendataan kasus Covid-19 di Sumsel. “Bukan berarti itu kesalahan tapi kurang tepat dalam hal pendataan pasien positif,” ujar Yuwono.

Yuwono menjelaskan, rilis angka pasien positif Covid-19 di Sumsel yang bertambah 119 orang itu di luar kewajaran “case fatalitas rate” (CFR) untuk pasien positif, baik nasional maupun internasional. “Seharusnya dicek dulu agar dapat dipertanggungjawabkan. Data telah dipublikasikan, ya sudah masuk sistem,” sesalnya.

Kedua, tambah Yuwono, intinya sekarang arah pandemi bukan lagi murni Covid-19 tapi menyangkut keluarga virus Corona (seperti SARS, MERS, flu burung) atau penyakit penyerta lainnya. Menurut dia, pasien yang positif belum tentu terjangkit Covid-19. Dari yang meninggal, ungkapnya, tentu ada yang punya penyakit penyerta. “Masuknya virus bisa saja bukan keluhan Covid tapi karena jantung, TBC, hipertensi dan lainnya,” ungkap Yuwono.

Dia menyarankan, istilah yang tepat bagi pasien meninggal akibat Covid yakni ‘pasien meninggal dengan Covid positif’ bukan positif Covid. Lantas, apa yang harus diributkan. “Lihat angka kematian bukan yang positif. Karena yang positif belum tentu Covid tapi bisa saja terinfeksi keluarga virus corona lainnya,” tegas dia.

Ketiga, lanjut Yuwono, kondisi Covid-19 di Sumsel saat ini “on the track” (menuju puncak virus). “Tingkat kematian akibat Corona di Sumsel saat ini mencapai 2,6 persen. Sementara, sesuai teori, tingkat kematian Covid-19 tidak akan melebihi 4 persen,” terangnya.

Masih kata Yuwono, Gugus Tugas harus memiliki data yang clear. Dilihat dari data, 75 persen pasien positif itu masuk kategori orang tanpa gejala (OTG). “Saya mau cek juga status PDP seperti apa. Apa sakitnya berat, kritis sedang atau ringan. Intinya sesuai pola virus ini di dunia, pasien positif yang sakit berat/kriris hanya 2 persen,” ungkapnya.

Selain meluruskan beberapa hal, sambung Yuwono, ke depan gugus tugas akan membawa Sumsel menuju covid terkendali. Apalagi tambahnya, sesuai keterangan WHO, paling cepat vaksin Covid-19 ditemukan pada 2021. “Artinya kita akan hidup berdampingan di tengah Covid-19. Sama seperti hidup di tengah HIV, TBC, dan DBD,” ungkapnya.

Ditanya alat tes yang dipakai, Yuwono kembali mengimbau agar dipilih dengan teliti dan hati-hati. “Supaya berhati-hati mempertanggungjawabkan data di masyarakat. Termasuk alat tes juga. Harus mendapat persetujuan WHO. Jangan sampai meragukan dan hasilnya kacau,” tegasnya.

Terkait pembatasan sosial berskala besar (PSBB) Yuwono tak begitu merespons. “Untuk PSBB dari masyarakat siap. Rumah sakit siap. APD cukup. Insentif sudah ada tanda-tanda. BPJS menanggung pasien covid. Pertanyaan ada pada kesiapan pemerintah daerah yang akan melakukan PSBB. Siap tidak menanggung kebutuhan dasar warganya,” ungkapnya.

Menurutnya, Sumsel jangan disamakan dengan Jakarta. Di sana, wali kota sampai lurah ditunjuk gubernur. Sementara di Sumsel, gubernur punya batasan kekuasaan sampai wilayah provinsi. Di kabupaten/kota ada ‘kerajaan’ masing-masing. “Mungkin segera ada risalah penjelasan resmi yang disampaikan secara lebih komprehensif dari gubernur,” ungkapnya.

Saat rapat bersama Gubernur, Yuwono menerangkan bahwa peningkatan jumlah kasus positif yang signifikan itu perlu dilihat kembali sejak kapan terjadi. “Sebelumnya tidak ada peningkatan kasus positif yang begitu mencolok di Sumsel,” ungkapnya.

Sementara itu, Gubernur Sumsel H Herman Deru melakukan diskusi terbatas guna mengetahui langsung kondisi terkini Covid 19 setelah peningkatan signifikan kasus positif Covid yang mencapai 119 kasus beberapa hari lalu. “Makanya Bapak/Ibu yang berkompeten saya undang ke sini. Sebagai pemimpin daerah saya pasti ingin masyarakat sehat, damai. Saya juga tidak mau tatanan hidup daerah ikut hancur,” jelas Gubernur dalam siaran pers yang diterima redaksi.

Agar tidak membuat masyarakat panik dan resah, Gubernur meminta semua pihak yang bertugas memberikan informasi perkembangan Covid-19 dapat melengkapi data disertai penjelasan yang menyejukkan masyarakat. Termasuk soal penambahan kasus positif Covid-19 yang cukup signifikan sebanyak 119 kasus tersebut.

“Kenapa angkanya besar sekali? karena memang aktif dan agresif melakukan tracing. Bukan berarti peningkatan itu karena tidak bisa mengendalikannya. Bukan seperti itu. Harus dilihat dulu jumlah penambahan kasus positif itu berapa persen dari banyaknya sampel yang diperiksa,” jelasnya.

Gubernur mengaku sengaja mengumpulkan pihak terkait ini juga untuk membedah apa saja hal lain yang ikut menyebabkan peningkatan tersebut. Gubernur berharap Covid-19 di Sumsel dapat dikendalikan sehingga Sumsel segera bebas dari Corona. “Saya ingin itu dibedah dari hal-hal kecil, apakah itu juga ada pengaruhnya dari perilaku masyarakat, dari perkembangan virus itu sendiri, kendala alat labor atau lainnya. Biar optimis Sumsel bisa segera bebas Corona,” ujarnya.

Senada diungkap Kepala BBLK, dr Andi Yussianto Mepid. Dia mengatakan, sejauh ini pihaknya dapat melakukan 500 pemeriksaan spesimen per hari. Namun diakuinya mereka cukup terkendala ruangan yang sangat terbatas. Cukup menyulitkan pihaknya saat akan menambah SDM. Menurutnya semakin banyak spesimen yang diperiksa akan semakin baik. “Kami juga bersyukur sekarang RSMH bisa periksa juga,” jelasnya.

Diketahui, kasus positif Covid-19 di Sumsel masih 458 orang. Tidak ada penambahan kasus baru pada Sabtu, 16 Mei 2020. Jumlah sampel yang diperiksa di laboratorium sebanyak 2.231 orang. Terdiri dari 1.722 OTG, 425 PDP, dan 84 ODP. Jumlah sampel positif 458 orang. Jumlah sampel negatif 270. Sebanyak 1.722 sampel masih dalam proses pemeriksaan.

Adapun jumlah orang dalam pantauan (ODP) sebanyak 5.205 orang. Sementara, jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) 347 orang. Kasus konfirmasi sembuh totalnya 73 orang. Tidak ada penambahan kasus sembuh. Sementara, kasus pasien meninggal 13 orang. Ada penambahan 2 kasus meninggal berasal dari Palembang.(tim)

Share This: