PWI Kecam Intimidasi dan Ancaman Pembunuhan terhadap Wartawan

PALEMBANG, SIMBUR – Dugaan intimidasi dan ancaman pembunuhan terhadap wartawan kembali terjadi. Kali ini dialami wartawan Detik.com. Karena itu, Ketua Bidang Advokasi/Pembelaan Wartawan PWI Pusat, H Ocktap Riady SH mengecam keras aksi tersebut.

Menurutnya, PWI meminta polisi segera mengusut pelaku aksi itu. Ocktap menjelaskan, intimidasi bermula dari tulisan wartawan tentang rencana pembukaan mal di Bekasi oleh Presiden Joko Widodo. Rupanya ada desakan untuk meralat judul dan tulisan itu yang akhirnya berubah menjadi kunjungan Presiden Jokowi untuk memastikan kesiapan mal di Bekasi menghadapi New Normal.

Kejadian ini menimbulkan intimidasi yang dimulai dari penyebaran informasi tentang wartawan tersebut dan kecaman yang dialamatkan kepadanya. Terakhir ancaman pembunuhan diterima melalui WhatsApp.
Menurut Ocktap, tindakan intimidasi dan ancaman pembunuhan yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang itu melanggar pasal 4 ayat 1-3 UU No 40/1999 tentang Pers. “Peranan pers itu untuk melakukan pengawasan, koreksi dan saran. Jika ada upaya menghambat peran itu bisa dipidana paling lama dua tahun dan denda Rp500 juta,” tegasnya.

Ocktap dengan tegas meminta polisi mengusut tuntas intimidasi terhadap wartawan tersebut. “Jika ada kesalahan terhadap pemberitaan ada hak koreksi dan hak jawab. Bukan dengan cara mengintimidasi wartawan atau media yang menulis berita. Apalagi mengancam akan membunuh wartawannya. Ini tindakan ‘Bar-Bar’ yang tidak bisa dibenarkan secara hukum.
PWI juga meminta Dewan Pers ikut berperan aktif mendesak polisi mengusut kasus ini dan menangkap pelaku pengancaman,” serunya.

Lanjut Ocktap, PWI juga meminta agar masyarakat ikut mengembangkan kemerdekaan pers dengan cara mengunakan saluran UU Pers jika merasa pemberitaan sebuah media terjadi kekeliruan. “Ada mekanisme hak jawab jika tidak puas dengan suatu pemberitaan. Ada mekanisme hak koreksi jangan gunakan kekerasan,” tegasnya. (red)

Share This: